Ratusan orang hadir dalam kesempatan tersebut. Bukan sekedar dari politikus Partai Golkar di DIY saja yang datang, namun pasangan calon Wali Kota Yogya nomor urut 2, Hanafi Rais-Tri Harjun Ismadi juga hadir di acara tersebut. Keduanya datang secara terpisah. Hanafi Rais datang lebih dulu kemudian menyusul Tri Harjun.
Hanafi sempat memberikan sambutan sambil menyisipkan kampaye di acara tersebut. "Saya dari kalangan akademisi, bukan politikus. Ada undangan dari Pak Gandung, saya pun menghadirinya tanpa memandang status politis," jelas putra sulung reformis, Amin Rais ini.
Ditempat yang sama, Calon Wali Kota Yogya yang diusung dari Partai Golkar dan PDIP dengan nomor urut 3, Haryadi Suyudi-Imam Priyono, hanya Haryadi saja yang tampak hadir diacara itu. Meski sempat hadir, namun Haryadi kemudian meninggalkan kediaman DPD Partai Golkar itu sebelum acara syawalan dimulai. Hal itu dikarenakan masih ada agenda lainnya yang tidak bisa ditinggalkan pria yang saat ini masih menjabat Wakil Wali Kota Yogyakarta tersebut. Sedangkan untuk pasangan calon walikota nomor urut 1 tidak tampak dari acara mulai hingga selesai.
"Syukuran dan syawalan ini ungkapan batin atas keluarnya Ngarsodalem dari ormas Nasdem, karena beliau menyadari betul langkah-langkah yang dilakukan merupakan hal tepat," terang Gandung Pardiman yang mengaku sejak awal sudah mencium ormas tersebut akan menjadi partai karena kekecewakan.
Anggota Komisi IX DPR RI ini menambahkan, acara yang dikemas tersebut sudah rutin dilakukan setiap tahun. "Ini bukanlah untuk kepentingan kampanye, tapi lebih pada rasa syukur saya dan keluarga kepada Allah yang sudah memberikan rejeki kepada kami," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gandung menyempatkan memberikan doorprize kepada para tamu undangan. Ia juga memberikan santunan kepada panti asuhan yatim piatu. Dalam pidato sambutan, Gandung juga menggingung masalah RUUK DIY yang tidak kunjung usai dibahas.
"Kalau Ngarsodalem (Sultan) mendesak agar segera jadi (RUUK DIY), nanti dikira ambisius. Sikap Ngarsodalem diam itu bukan berarti tidak tau, tidak peduli, tapi lebih pada alur bagaimana berpolitik yang dewasa, tidak plin-plan," jelas Gandung.
Gandung menambahkan, 29 Juni 2008 lalu, Partai Golkar membuat Gerakan Pro-Penetapan agar RUUK DIY segera disah menjadi Undang-Undang. "Kami yang paling depan kala itu menyerukan Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Raja Ngayogyokarta Hadiningrat dan Pakualam yang bertahta," jelasnya.
Seiring proses politik yang berjalan, RUUK DIY yang sudah digodok waktu itu hingga saat ini tidak kunjung selesai. Ada apa dengan Pemerintah Pusat dan DPR ? Hingga masa perpanjangan Sultan 3 tahun yang akan habis pada 9 Oktober 2011 nanti, saat ini belum ada kepastian masalah RUUK itu.
Gandung memaparkan, jika masa jabatan Gubernur DIY Sri Sultan HB X nanti habis pada 9 Okober 2011, lebih baik diperpangan 5 tahun lagi. "Diperpanjang jangan hanya 2 atau 3 tahun. Langsung 5 tahun. Dengan perpanjangan 5 tahun kedepan itu, Ngarsodalem bisa menentukan RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang,red) akan diarahkan kemana," jelasnya.
Kalau hanya 2 atau 3 tahun, lanjut Gandung, tidak jelas arah RPJP yang akan diambil. "Kalau 2 atau 3 tahun itu tanggung, tidak bisa untuk menentukan RPJP-nya," katanya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar